Thursday, May 17, 2007

Langkanya "Manusia Koteka"

MANOKWARI adalah ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat. Sebagian besar masyarakatnya masih hidup dari hasil bertani, bercocok tanam, beternak, dan berburu. Hasil bercocok tanam seperti sayuran, labu, umbi-umbian (singkong, talas, dan ubi), mereka jual di pasar Wosi dan Sanggeng. Namun, di Kabupaten yang memiliki luas wilayah 34.970 km2 ini, kehidupan masyarakatnya sudah jauh lebih maju dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Irian Jaya Barat, seperti Kabupaten Fak-Fak, Kaimana dan Teluk Bintuni. Mungkin, majunya kehidupan masyarakat Manokwari dikarena adanya bandara udara yang sudah mampu didarati pesawat-pesawat jenis boing 737, yaitu Bandara Rendani yang membuat perekonomian masyarakatnya lebih maju.

Saat aku mengunjungi Manokwari (Februari 2007), sudah jarang kutemukan pakaian adat Papua yang menutup kemaluan laki-laki. Atau dalam budaya asli penduduk Papua disebut Koteka. Namun, menurut cerita penduduk Manokwari, distrik di Kabupaten Jayapura, tepatnya di Wamena, masih banyak ditemukan masyarakat yang menggunakan koteka, itupun mereka yang sudah lanjut usia yang terlihat memakai alat yang terbuat dari buah labu yang dikeringkan itu.

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya penduduk asli pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu. Labu tua dipetik, dikeluarkan isi dan bijinya kemudian dijemur. Setelah kering, labu tersebut disumbat pada ujung batangnya dengan posisi berdiri tegak menjulur arah pusat. Secara harfiah, kata koteka bermakna pakaian. Yang berasal dari bahasa salah satu suku Papua. Namun, sebagian suku lainnya menyebutnya dengan istilah holim atau horim. Sebagai penutup kemaluan pria, ukurannyapun beragam. Namun, ukuran kotekan tidak berkaitan dengan status pemaiaknya. Besar kecilnya ukuran koteka biasanya berkaitan dengan aktivitas penggunanya. Koteka yang kecil biasa digunakan pada saat bekerja. Sedangkan yang besar dan dilengkapi dengan hiasan digunakan dalam upacara adat.

Dahulu, tubuh yang kekar bagi seorang pria berkoteka adalah idaman seorang wanita Papua. Agar penampilan seorang pria lebih perkasa dan berwibawa, seluruh bagian kulit luar termasuk rambut mereka dilumuri minyak babi agar kelihatan hitam mengkilat dan licin bila terpanggang matahari. Lemak babi itu dioleskan di wajah, pinggang, kaki, dan tangan. Biasanya dipakai pada saat pergelaran pesta adat seperti bakar batu. Biasanya, laki-laki Papua yang menginjak usia 5-13 tahun harus sudah mengenakan koteka sebagai busana pria. Pria yang menutup bagian penis dengan kulit labu ini sering disebut "manusia koteka", atau sering pula disebut masyarakat koteka.

Namun, karena koteka dipandang sebagai salah satu bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan, maka di tahun 1970-an mencanangkan "Operasi Koteka". Operasi ini dimulai dengan membagi-bagikan pakaian modern agar penduduk asli Papua tidak lagi menggunakan koteka. Saat itu, Pria yang mengenakan koteka dilihat sebagai pria telanjang dan "tidak beradab". Tetapi, dari sisi orang Papua, koteka adalah pakaian resmi orang Papua.
Sehingga, saat ini sulit sekali ditemukan "manusia koteka". Untuk mendapatkan kotekanyapun kita harus merogohkan kocek 100 hingga 150 ribu. Walau dianggap "tidak beradap", "manusia koteka" pernah lahir dan menambah khasanah budaya bangsa ini.

No comments: