Thursday, May 17, 2007

Mendatangi Mummi Panglima Perang di Wamena

aku nggak perlu uang ribuan...

yang aku mau ada lahan tuk makan...

asal ada ubi...untuk ku makan

asal ada babi...untuk ku panggang

aku cukup senang.....

dan akupun tenang....


Itulah sebait lagu dari grup musik Slank yang menggambarkan kesuburan dan kesedarhanaan masyarakat Wamena. Nama Wamena mungkin belum akrab di telinga kita. Sebab, distrik yang menjadi ibukota Kabupaten Jayawijaya ini memang lebih terkenal dengan nama Lembah Baliem. Lembah yang dikelilingi Pegunungan Jayawijaya ini terkenal dengan keindahan wisata alamnya. Bahkan, keindahan alamnya terkenal hingga ke mancanegara.

Saat aku mengunjungi Lembah Baliem, (Agustus 2007), aku langsung ingin melihat mummi Wimontok Mabel, salah satu obyek wisata yang terkenal di Wamena. Obyek wisata ini terletak di Desa Kurulu yang jaraknya sekitar 50 kilometer di utara Wamena. Sebagai obyek wisata andalan di Wamena, akses jalan menuju desa ini cukup baik. Hanya sekitar satu jam kita sudah sampai di Desa Kurulu.

Sebenarnya, menurut adat suku Dani, jenazah suku Dani yang meninggal tidak dikuburkan tetapi dikremasi dengan upacara adat, yang berlangsung selama 40 hari. Selesai dikremasi, abu jenazah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam labu. Kemudian labu tersebut dimakamkan di belakang honai (rumah adat suku Dani) yang disebut Pilamo dan diberi pagar pelindung.
Namun, beberapa jenazah suku Dani juga ada yang diawetkan (dimummikan). Menurut informasi, hanya orang tertentu yang boleh dimumikan. Mereka biasanya orang yang dianggap pahlawan karena berjasa dalam perang antar suku semasa hidupnya. Bisa jadi mereka adalah kepala suku atau panglima perang seperti Wimontok Mabel.

Wimontok dalam bahasa masyarakat setempat berarti perang terus. Ia adalah kepala suku perang yang terkenal dengan ahli strategi. Namun, Wimontok meninggal karena usia yang sudah tua. Dan sebagai panglima perang, tubuhnya dipenuhi luka tusukan yang masih terlihat hingga sekarang. Umur mummi ini diperkirakan sekitar 366 tahun. Umur ini bisa dihitung dari kalung rumput yang dilingkarkan di lehernya setiap 5 tahun sekali. Untuk pengalungan tersebut harus disertai upacara adat dengan pemotongan babi. Kemudian, lemak babi itu dilulurkan ke seluruh tubuh si-mummi.

Hingga saat ini, warga suku Dani masih merahasiakan cara pengawetan mummi Wimontok. Namun menurut cerita, pengawetan dilakukan dengan cara pengasapan sekitar 3 bulan terus-menerus dengan ramuan rempah-rempah. Sepanjang prosesi pengawetan tersebut disertai dengan upacara adat yang sakral. Setelah menjadi mummi, perawatan selanjutnya ditangani kaum laki-laki saja. Mereka percaya, jika sudah tersentuh oleh wanita, mummi akan cepat rusak dan bisa mendatangkan malapetaka seperti ladang yang tidak subur dan timbulnya wabah penyakit. Dan bagi si wanita sendiri, ia bisa menjadi tidak subur.

Dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, mummi Wimontok selalu dihadirkan di tengah-tengah pesta. Sesuai dengan kepercayaan mereka, kehadiran mummi di upacara tersebut akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuburan. Mereka percaya, mummi akan merestui setiap kegiatan yang mereka lakukan sebab hal itu pernah dilakukan oleh mummi semasa hidupnya.

Bayar 450 ribu

Mummi Wimontok disimpan dalam sebuah rumah honai yang gelap. Penerangan dalam rumah honai itu hanya didapat dari sinar yang masuk melalui celah-celah atap yang terbuat dari alang- alang. Mummi Wimontok diletakkan dalam kotak yang sedikit lebih besar dari ukuran tubuhnya di salah satu sudut ruangan.

Tidak mudah untuk dapat melihat mummi Wimontok. Pasalnya, kita harus melakukan negosiasi harga terlebih dahulu dengan kerabat dekatnya. Usai negosiasi, kerabat Wimontok mematok harga sesuai jumlah rombongan yang hadir. Saat itu, mereka meminta ongkos Rp 450 ribu untuk kami dapat melihat mummi Wimontok. Tapi, itu baru ongkos mengeluarkannya dari rumah honai tempat ia disimpan. Kalau ingin memotretnya, maka kita harus membayar lagi Rp 5 ribu untuk sekali jepret.

Namun, kenangan yang didapat wisatawan usai mendatangi obyek wisata ini jauh melebihi ongkos yang harus mereka keluarkan. Sebab, selain di Wamena, mummi hanya ada di Mesir yang secara geografis lebih jauh dari Indonesia.

Langkanya "Manusia Koteka"

MANOKWARI adalah ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat. Sebagian besar masyarakatnya masih hidup dari hasil bertani, bercocok tanam, beternak, dan berburu. Hasil bercocok tanam seperti sayuran, labu, umbi-umbian (singkong, talas, dan ubi), mereka jual di pasar Wosi dan Sanggeng. Namun, di Kabupaten yang memiliki luas wilayah 34.970 km2 ini, kehidupan masyarakatnya sudah jauh lebih maju dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Irian Jaya Barat, seperti Kabupaten Fak-Fak, Kaimana dan Teluk Bintuni. Mungkin, majunya kehidupan masyarakat Manokwari dikarena adanya bandara udara yang sudah mampu didarati pesawat-pesawat jenis boing 737, yaitu Bandara Rendani yang membuat perekonomian masyarakatnya lebih maju.

Saat aku mengunjungi Manokwari (Februari 2007), sudah jarang kutemukan pakaian adat Papua yang menutup kemaluan laki-laki. Atau dalam budaya asli penduduk Papua disebut Koteka. Namun, menurut cerita penduduk Manokwari, distrik di Kabupaten Jayapura, tepatnya di Wamena, masih banyak ditemukan masyarakat yang menggunakan koteka, itupun mereka yang sudah lanjut usia yang terlihat memakai alat yang terbuat dari buah labu yang dikeringkan itu.

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya penduduk asli pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu. Labu tua dipetik, dikeluarkan isi dan bijinya kemudian dijemur. Setelah kering, labu tersebut disumbat pada ujung batangnya dengan posisi berdiri tegak menjulur arah pusat. Secara harfiah, kata koteka bermakna pakaian. Yang berasal dari bahasa salah satu suku Papua. Namun, sebagian suku lainnya menyebutnya dengan istilah holim atau horim. Sebagai penutup kemaluan pria, ukurannyapun beragam. Namun, ukuran kotekan tidak berkaitan dengan status pemaiaknya. Besar kecilnya ukuran koteka biasanya berkaitan dengan aktivitas penggunanya. Koteka yang kecil biasa digunakan pada saat bekerja. Sedangkan yang besar dan dilengkapi dengan hiasan digunakan dalam upacara adat.

Dahulu, tubuh yang kekar bagi seorang pria berkoteka adalah idaman seorang wanita Papua. Agar penampilan seorang pria lebih perkasa dan berwibawa, seluruh bagian kulit luar termasuk rambut mereka dilumuri minyak babi agar kelihatan hitam mengkilat dan licin bila terpanggang matahari. Lemak babi itu dioleskan di wajah, pinggang, kaki, dan tangan. Biasanya dipakai pada saat pergelaran pesta adat seperti bakar batu. Biasanya, laki-laki Papua yang menginjak usia 5-13 tahun harus sudah mengenakan koteka sebagai busana pria. Pria yang menutup bagian penis dengan kulit labu ini sering disebut "manusia koteka", atau sering pula disebut masyarakat koteka.

Namun, karena koteka dipandang sebagai salah satu bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan, maka di tahun 1970-an mencanangkan "Operasi Koteka". Operasi ini dimulai dengan membagi-bagikan pakaian modern agar penduduk asli Papua tidak lagi menggunakan koteka. Saat itu, Pria yang mengenakan koteka dilihat sebagai pria telanjang dan "tidak beradab". Tetapi, dari sisi orang Papua, koteka adalah pakaian resmi orang Papua.
Sehingga, saat ini sulit sekali ditemukan "manusia koteka". Untuk mendapatkan kotekanyapun kita harus merogohkan kocek 100 hingga 150 ribu. Walau dianggap "tidak beradap", "manusia koteka" pernah lahir dan menambah khasanah budaya bangsa ini.