Perjalananku ke pulau paling timur Indonesia, Papua, sangatlah berkesan. Walau diwarnai kelelahan dalam perjalanan akibat panjangnya rute penerbangan yang harus ditempuh, tapi semua dapat terbayarkan dengan keindahan alam yang asri di Manokwari. Setibanya di Kabupaten Manokwari, Kamis, 8 Februari 2007, aku langsung terkesima oleh panorama alamnya yang indah.
Sapa ramah penduduk aslinyapun begitu bersahabat. Maklum saja, kehadiran pengunjung ke daerah ini adalah sumber uang bagi masyarakat sekitar. Karena itu, beberapa anak Papua langsung menawarkan diri untuk menjadi pemandu wisata selama kunjunganku ke kota buah ini. Anggelo, itulah salah satu nama anak Papua yang setia menemani wisataku waktu itu.
Empat hari waktu yang aku habiskan di kota yang memiliki 12 Kecamatan dan 132 desa ini terasa sangat singkat. Banyak sekali objek wisata yang tidak sempat aku kunjungi satu persatu. Salah satu dari sekian banyak tempat indah yang meninggalkan kesan asli buatku adalah Pantai Pasir Putihnya. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari penginapan untuk menuju pantai tersebut. Selain keindahan alamnya, daya tarik yang membuat pengunjung tidak dapat melupakan ingatan adalah pertunjukan "pemanggilan ikan" di laut lepas yang dilakukan oleh warga Desa Bakaro, keluarga Lukas Barayaap.
Kepandaian Lukaspun sudah diturunkan kepada anaknya, Maria. Kepada para pengunjung, keluarga Lukas memperagakan "sulap"nya. Dengan sebuah peluit, Keluarga Lukas, berjalan menuju bibir pantai. Peluitpun dibunyikannya secara berturut-turut. Beberapa menit kemudian, aku dan rombonganpun terperanjat menyaksikan puluhan ekor ikan yang berdatangan menghampiri suara peluit itu. Keluarga Lukas segera memberi makan rombongan ikan yang menghampirinya dengan anai-anai. Sayapun terkesima dengan kejinakan ikan-ikan tersebut. Usai memakan makanan yang diberikan keluarga Lukas, rombongan ikanpun segera menghilang. Tak lama kemudian, peluitpun kembali dibunyikannya. Dan ikan-ikan itu bermunculan kembali ke permukaan laut tepat di bibir pantai pasir putih. Tahun 2000, keluarga Lukas sudah dikenal oleh Masyarakat Manokwari sebagai "pemanggil ikan".
Selain pertunjukan "pemanggilan ikan", barisan pohon ketapang dan pohon bakau di bibir pantai membuat pemandangan semakin rindang. Sejuk dan dingin oleh hamparan angin yang meniup halus. Menurut penduduka setempat, di bibir pantai terdapat kuburan Geisler dan Ottow yang mereka yakini sebagai pembawa injil pertama di tanah Papua. Tak jauh dari Pantai Pasir Putih terdapat pulau Mansinam. Di pulau yang memiliki luas sekitar 24 kilo meter ini terdapat sumur Yakup yang dipercayai penduduk setempat dibangun pada tahun 1855 oleh Geisler dan Ottow.
Di bibir pantai Pulau Mansinam juga terdapat bangunan salib. Bangunan berwarna putih itu memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Salib ini juga dibangun oleh Ottow dan Geisler saat pertama kali menginjakkan kaki di daerah itu. Dari cerita warga setempat, di kaki salib tersebut tertulis kalimat dalam bahasa Belanda yang artinya para penginjil pertama, Ottow dan Geisler tiba di Papua untuk menyampaikan injil pada 5 Februari 1855. Di pulau ini juga terdapat batu nisan dengan ketinggian 30 sentimeter, tempat berlutut kedua penyebar injil asal Belanda ini. Menurut warga, tempat ini adalah tempat berdoa kedua penginjil itu sebelum meninggal. Hingga kini, di pulau yang ditempuh sekitar 15 menit dengan perahu dari Pantai Pasir Putih ini masih sering di datangi penduduk sekitar untuk berdoa dan mengambil air suci dari sumur Yakup yang diyakini dapat menyembuhkan segala penyakit.
Cukup panjang untuk menceritakan keindahan panorama Pantai Pasir Putih dan Pulau Mansinamnya. Namun sayang, Pemda setempat masih belum begitu memperhatikan objek wisata di daerah ini. Sehingga, tak jarang hal ini disayangkan oleh wisatawan lokal dan asing.
Monday, March 26, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)